Selasa, 12 Oktober 2010

SIFAT- SIFAT ALLAH (Qudrat, Iradat, dan Ilmu)


PENDAHULUAN

Ilmu Tauhid (Aqidah atau Iman) adalah hal yang paling penting yang harus dipelajari setiap Muslim. Bahkan harus dipelajari lebih dulu sebelum kita mempelajari/melakukan ibadah seperti shalat, puasa, zakat, haji, dan sebagainya.
Mentauhidkan Allah dalam nama dan sifat-Nya merupakan salah satu dari tiga tauhid yang harus diyakini seorang muslim, yaitu tauhid rububiyah, tauhid uluhiyah, dan tauhid asma’ (nama) dan sifat. Dengan demikian, mengenal nama dan sifat Allah memiliki kedudukan dan arti penting dalam agama. Seseorang tidak dapat beribadah kepada Allah secara sempurna dan dengan keyakinan yang benar sebelum mengetahui nama dan sifat Allah.[1] Allah berfirman :
“ Hanya milik Allahlah asma-ul husna, maka berdo’alah kepada-Nya dengan menyebut asma-ul husna itu. ” (Q.s. Al- A’raf: 180)
Sebagaimana yang sudah maklum; semua orang yang berakal sehat sepakat bahwa dzat ke- ILAHI- an tidak mungkin akan kita ketahui hakikatnya, hal ini disepakati juga oleh para ahli kalam dan filosof, Jadi, kalau dzat Allah SWT tidak dapat diketahui hakikatnya, bagaimana mungkin kita mengetahui hakikat sifat-Nya?. Dalam hal ini Ibnu Taimiyah berkata:
“ pengetahuan tentang bagaimana (hakikat) sifat, tidak akan dapat kita capai, karena pengetahuan akan hal itu, sama dengan pengetahuan tentang bagaimana (hakikat) yang disifati, kalau yang disifati tersebut tidak dapat diketahui bagaimana (hakikatnya), tentu juga halnya dengan bagaimana hakikat sifatnya..”
Oleh karena itu, Allah memerintahkan kita untuk mengetahui dan mengenal nama- nama-Nya dan sifat- sifa-Nya, bukan untuk mencari tahu kayfiyah (bagaimana bentuk dan hakikat nama dan sifat-Nya) karena hal tersebut tidak mungkin terjangkau oleh akal manusia yang terbatas.[2]


PEMBAHASAN

Al- Asma’ artinya nama- nama, dan as- Shifat artinya sifat- sifat. Allah SWT memiliki nama- nama dan sifat- sifat yang menunjukan ke- Maha Sempurnaan- Nya, sebagaimana disebutkan di dalam kitab suci Al- Qur’an dan Sunnah Rasulullah SAW.[3]
Berikut ini adalah 20 dari sifat- sifat wajib bagi Allah, yaitu :[4]
Sifat Wajib
Tulisan Arab
Maksud
Sifat
Wujud
ﻭﺟﻮﺩ
Ada
Nafsiah
Qidam
ﻗﺪﻡ
Sedia
Salbiah
Baqa
ﺑﻘﺎﺀ
Kekal
Salbiah
Mukhalafatuhu lilhawadith
ﻣﺨﺎﻟﻔﺘﻪ ﻟﻠﺤﻮﺍﺩﺙ
Bersalahan Allah Ta'ala dengan segala yang baharu
Salbiah
Qiamuhu binafsih
ﻗﻴﺎﻣﻪ ﺑﻨﻔﺴﻪ
Berdiri-Nya dengan sendiri
Salbiah
Wahdaniat
ﻭﺣﺪﺍﻧﻴﺔ
Esa Allah Ta'ala pada dzat,pada sifat dan pada perbuatan
Salbiah
Qudrat
ﻗﺪﺭﺓ
Berkuasa
Ma'ani
Iradat
ﺇﺭﺍﺩﺓ
Berkehendak menentukan
Ma'ani
Ilmu
ﻋﻠﻢ
Mengetahui
Ma'ani
Hayat
ﺣﻴﺎﺓ
Hidup
Ma'ani
Sama'
ﺳﻤﻊ
Mendengar
Ma'ani
Basar
ﺑﺼﺮ
Melihat
Ma'ani
Kalam
ﻛﻼ ﻡ
Berkata-kata
Ma'ani
Kaunuhu qaadiran
ﻛﻮﻧﻪ ﻗﺎﺩﺭﺍ
Keadaan-Nya yang berkuasa
Ma'nawiyah
Kaunuhu muriidan
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺮﻳﺪﺍ
Keadaan-Nya yang berkehendak menentukan
Ma'nawiyah
Kaunuhu 'aliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻋﺎﻟﻤﺎ
Keadaan-Nya yang mengetahui
Ma'nawiyah
Kaunuhu hayyan
ﻛﻮﻧﻪ ﺣﻴﺎ
Keadaan-Nya yang hidup
Ma'nawiyah
Kaunuhu sami'an
ﻛﻮﻧﻪ ﺳﻤﻴﻌﺎ
Keadaan-Nya yang mendengar
Ma'nawiyah
Kaunuhu basiiran
ﻛﻮﻧﻪ ﺑﺼﻴﺭﺍ
Keadaan-Nya yang melihat
Ma'nawiyah
Kaunuhu mutakalliman
ﻛﻮﻧﻪ ﻣﺘﻜﻠﻤﺎ
Keadaan-Nya yang berkata-kata
Ma'nawiyah

Dari  20 sifat- sifat wajib bagi Allah SWT yang ada diatas, dalam makalah ini akan dibahas secara mendalam tiga sifat- sifat wajib bagi Allah meliputi Qudrat ( ﻗﺪﺭﺓ ), Iradat ( ﺇﺭﺍﺩﺓ ), Ilmu ( ﻋﻠﻢ ) yang terdapat dalam sifat Ma’ani.
A.    Qudrat (ﻗﺪﺭﺓ) Maha Kuasa.
Artinya adalah, Allah itu Dzat yang Kuasa. Dengan sifat itulah Allah mewujudkan atau meniadakan segala sesuatu yang dikehendaki, begitu pula Allah kuasa melenyapkan apa saja menurut kehendak- Nya.[5] Seperti firman Allah dalam Surat Al- Baqarah, ayat: 20, yang berbunyi:
”… Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia melenyapkan pendengaran dan penglihatan mereka. Sesungguhnya Allah berkuasa atas segala sesuatu.” (Q.s. Al- Baqarah: 20)
Dalam firman Allah yang lain, yang berbunyi :
”Jika Dia kehendaki, niscaya Dia musnahkan kamu dan mendatangkan makhluk baru (untuk menggantikan kamu). Dan yang demikian tidak sulit bagi Allah.” (Q.s. Fathiir: 16-17)
Diantara sifat yang wajib bagi Dzat Yang Wajib Ada itu adalah “Kuasa” (Qudrat). Ia adalah sifat yang dengannya, Dzat Yang Wajib itu mengadakan dan meniadakan apa yang dikehendaki- Nya. Bila telah jelas, bahwa  Dzat Yang Wajib itulah yang menciptakan alam semesta menurut kehendak Ilmu dan Iradat- Nya, maka tidak dapat diragukan lagi bahwa “ Ia Berkuasa” dengan pasti. Dan tidak lain makna Qudrat, kecuali Kekuasaan yang penuh dan mutlak seperti ini.[6]
Kekuasaan Allah adalah kekuasaan yang sempurna, tidak terbatas dan tidak ada kekuasaan  lain yang dapat menghalangi kekuasaan Allah. Seluruh alam yang luas dan kokoh kuat ini, mungkin hanya sebagian kecil dari alam yang sebenarnya. Mungkin ada berjuta- juta matahari, bumi dan bulan serta bintang- bintangnya pula, dan ilmu kita manusia belum dapat menyelidikinya.[7]

B.     Iradat ( ﺇﺭﺍﺩﺓ ) Maha Berkehendak Menentukan.
Artinya, Allah itu Berkehendak. Inilah sifat Allah, yang dengan sifat Iradah ini Allah menentukan segala sesuatu, baik waktu, tempat atau sebagainya, untuk diwujudkan atau ditiadakan.[8] Allah berfirman :
“ Allah menghenndaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu.” (Q.s. Al- Baqarah: 185)
“…Sesungguhnya Tuhanmu Maha Pelaksana terhadap apa yang Dia kehendaki.”
 (Q.s. Huud: 107)
Diantara sifat yang wajib bagi Dzat Yang Wajib Wujud, adalah “Iradat” (Kehendak). Ia adalah sifat yang dapat menentukan, untuk penciptaan alam ini dengan salah satu jalan- jalan- Nya yang mungkin.[9] Firman Allah :
“Allah Pencipta langit dan bumi, dan bila Dia berkehendak untuk menciptakan sesuatu, maka Dia hanya mengatakan kepadanya: “Jadilah!” Lalu jadilah ia.”
(Q.s. Al- Baqarah: 117)
Kejadian apa saja, baik kejadian besar seperti kejadian bumi dan matahari, atau kejadian kecil, misalnya pecahnya sebuah gelas, sobeknya sehelai kertas, matinya seekor nyamuk atau kuman, semua itu terjadi sesuai dengan Iradat atau kemauan Allah. Apa saja yang dimaui Allah pasti jadi atau terjadi. Dan apa yang tidak dimaui Allah, tidak mungkin akan terjadi. Dengan pengertian yang seluas- luasnya.
Seorang berhasil dapat mencuri barang orang lain, juga adalah dengan kemauan Allah, tetapi bukan Allah yang memerintahkan untuk mencuri itu. Allah malah melarang pencurian itu. Perlakuan manusia melanggar perintah Allah, melanggar larangan Allah pun adalah dengan kemauan Allah. Allah merdeka menjadikan seorang manusia menjadi manusia yang ingkar atau menjadi manusia yang taat, menjadi manusia jahat atau manusia baik, menjadi manusia muslim atau manusia kafir.
Keingkaran, kejahatan, atau kekafiran itu berlakunya dengan kemauan Allah, tetapi tidak atas keredhoan (kesukaan) Allah. Allah melarang manusia menjadi ingkar, jahat atau kafir. Begitu juga seorang yang taat, patuh dan ikhlas menjalankan perintah Allah, semuanya itu berlaku atas kemauan Allah, sedang Allah memerintahkan taat, patuh, dan ikhlas itu.
Karena ketentuan Iradah Allah itu gaib bagi kita, haruslah kita selalu berusaha menjadi orang yang taat, baik dan patuh. Kita mempunyai 100% kesempatan untuk menjadi orang yang patuh. Seluruh kejadian di langit dan bumi, kecil atau besar, penting atau tidak penting, semua terjadi karena Quradat dan Iradat Allah.[10] Firman Allah:
“…Katakanlah: “ Maka siapakah yang dapat menghalangi kehendak Allah jika Dia menghendaki kemudharatan bagimu atau jika Dia menghendaki manfaat bagimu. Sebenarnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.s. Al- Fath: 11)

C.    Ilmu ( ﻋﻠﻢ ) Maha Mengetahui.
Artinya, Allah itu Dzat yang Mengetahui. Allah mengetahui segala hal dan peristiwa, dengan tidak didahului oleh keraguan atau kesamaran. [11] Allah Maha Mengetahui karena Dialah yang menciptakan segala sesuatu. Sedangkan manusia tahu bukan karena menciptakan, tapi sekedar melihat, mendengar, dan mengamati. Itu pun terbatas pengetahuannya sehingga manusia tetap saja tidak mampu menciptakan meski hanya seekor lalat. Firman Allah:
“ Dan Allah memiliki kunci semua yang ghaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali Dia, dan Dia mengetahui apa yang di daratan dan di lautan, dan tiada sehelai daun pun yang gugur melainkan Dia mengetahuinya, dan tidak jatuh sebutir biji-pun dalam kegelapan bumi, dan tidak sesuatu basah atau kering, melainkan tertulis dalam kitab yang nyata (Lauh Mahfudz)” (Q.s. Al- An’aam: 59)
Diantara sifat yang wajib bagi Dzat Yang Wajib Ada, adalah sifat “Ilmu” (Maha Mengetahui). Yang dimaksud, ialah terbukanya tabir sesuatu bagi Dzat yang telah tetap sifat itu bagi- Nya, yakni yang menjadi sumber, pokok pangkal dari terbukanya tabir sesuatu itu.sebab sifat ilmu, termasuk sifat- sifat wujudiah yang menjadi sifat bagi Yang Wajib Ada. Segala sifat yang dipandang menjadi kesempurnaan bagi wujud, wajiblah ada pada dirinya. Maka karena itu teranglah, bahwa Dzat yang wajib Ada itu berilmu (‘Alim, Maha Mengetahui).
Kenyataan menunjukan, bahwa ilmu menjadi kesempurnaan bagi segala sesuatu yang mungkin wujud (ada). Dan diantara yang termasuk mungkin wujid itu ialah Dzat yang Memiliki Ilmu (‘Alim). Maka sekiranya Yang Wajib Ada itu tidak ‘Alim (tidak berilmu), tentu akan terdapat dalam sesuatu yang mungkin ada itu, Dzat (substansi) yang lebih sempurna keadaannya dari pada Dzat Yang Wajib Ada. Sedang itu mustahil, sebagaimana yang telah kami terangkan.
Kemudian Dzat Yang Wajib Ada itulah yang menjadi pemberi ilmu dalam alam yang mungkin ini. Tenti tidak masuk akal sama sekali, bahwa Yang menjadi Sumber Ilmu tidak mempunyai ilmu.[12] Firman Allah:
“ Katakanlah: Sekiranya lautan jadi tinta untuk menulis kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis ditulis kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu.” (Q.s. Al- Kahfi: 109)
Allah ber- Ilmu dengan arti mengetahui segalanya. Tidak ada satu kejadian atau masalah yang bagaimana kecil atau besarnya yang tidak diketahui oleh Allah. Allah tidak boleh dikatakan tidak tahu, bodoh dan lain- lain sebagainya.
Mari kita sama menengok sejurus ke alam semesta. Demikian hebat dan kokohnya, demikian cantik dan teraturnya ala mini dibikin oleh Allah. Berlangit dan bermatahari, berbumi dan berbintang, masing- masing berjalan beredar dengan teratur, tidak pernah bearntuk dan bertabrakan satu dengan yang lainnya. Sungguh menunjukan hebatnay Ilmu Allah yang mengadakan dan mengatur itu semua.
Dengan ilmu yang setinggi dan sesempurna itulah Allah menciptakan segala benda dan alam ini seluruhnya. Dan dengan ilmu yang sempurna dan setinggi itu pula lah Allah mengadakan peraturan bagi setiap alam yang diciptakan Allah itu. Dengan pengetahuan dan ilmu yang begitu tinggi dan sempurna, begitu pula lah Allah membuat aturan yang berupa perintah dan larangan bagi manusia.
Aturan atau perintah dan larangan Allah itu ialah agama, yang diturunkan Allah dengan perantara Nabi dan para Rasul- Nya, yang dari dulu sampai sekarang bernama Agama Islam. Sadarlah kita hendaknya sesadar- sadarnya bahwa segala perintah dan larangan Allah yang tercantum dalam kitab- kitab Suci- Nya itu pasti baik untuk dipatuhi dan dijalankan oleh manusia.[13] Firman Allah:
“Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (Q.s. An- Nisaa’: 176)
Berilmunya Allah itu adalah termasuk diantara hal- hal yang lazim bagi wujud- Nya, sebagaimana telah diketahui. Ilmu- Nya mengatasi segala macam ilmu, karena tinggi martabat wujud- Nya diatas segala yang maujud (ada). Maka teranglah pula, bahwa Ilmu- Nya itu meliputi segala sesuatu yang dapat dicapai oleh ilmu pengetahuan.
Berilmunya Allah adalah satu dari suatu kelaziman bagi wujud- Nya. Maka dari itu Ia tidak berkehendak kepada sesuatu selain kepada Dzat- Nya sendiri. Ia adalah “azali”. Dzat yang wujudnya tidak berawal dan tidak juga berakhir (abadi), bebas tidak bisa dicapai dengan alat- alat (media- media) dan oleh ketajaman- ketajaman pikiran dan kegiatan- kegiatan otak. Jadi Ia berlainan dengan segala yang berilmu dari sesuatu alam yang mungkin.
Diantara dalil- dalil yang membuktikan tentang tetap adanya Ilmu Allah, ialah apa yang kita saksikan sendiri pada struktur (susunan) alam yang mungkin ini, berupa hokum- hokum dan kerapiannya, terletak segala sesuatu pada tempat yang semestinya, tetapnya masing- masing pada bidang yang diperlukan dalam wujud dan kekalnya. Ini nyata jelas bagi mata orang yang suka memperhatikan apa yang ditunjukan oleh benda- benda alam, baik besar (makro), maupun yang kecil (mikro), tinggi maupun yang rendah.[14]

Ø  Ilmu Allah Tidak Terbatas.
Allah SWT mempunyai ilmu yang tidak terbatas. Dia mengetahuai apa saja yang ada di langit dan di bumi, baik yang gaib maupun yang nyata. Firman Allah:
“ Apakah kamu tidak mengetahui bahwa sesungguhnya Allah mengetahui apa saja yang ada di langit dan di bumi..” (Q.s. Al- Hajj: 70)
“Dialah Allah, Yang tiada Tuhan selain Dia. Yang mengetahui yang gaib dan yang nyata. Dialah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.” (Q.s. Al- Hasyr: 22)
 Tidak ada satu pun yang tersembunyi bagi Allah SWT. Sebutir biji dalam gelap gulita bumi yang berlapis- lapis tetap diketahui oleh Allah SWT. Seperti Firman Allah dalam surat Al- An’aam, ayat 59.
Ilmu Allah memang maha luas, tiada terbatas. Dia mengetahui apa yang sudah dan akan terjadi. Manusia, malaikat dan makhluk mana pun tidak akan bias menyelami lautan ilmu Allah SWT. Bahkan untuk mengetahui ciptaan Allah saja manusia tidak akan mampu. Seperti yang digambarkan dalam Firman Allah dalam surat Al- Kahfi ayat 109.[15]











PENUTUP


A.    Kesimpulan.
Kesimpulan atau intisari yang dapat diambil dari materi tentang penjelasan sifat- sifat Allah (Qudrat, Iradat, dan Ilmu) adalah bahwa Qudrat mengandung pengertian dengan sifat tersebut Allah mewujudkan atau meniadakan segala yang dikehendaki, begitu pula Allah kuasa melenyapkan apa saja menurut kehendak- Nya. Sedangkan Iradat mengandung pengertian dengan sifat ini Allah menentukan segala sesuatu, baik waktu, tempat atau sebagainya, untuk diwujudkan atau ditiadakan- Nya. Dan Ilmu mengandung pengertian bahwa Allah mengetahui segala hal dan peristiwa, dengan tidak didahului dengan keraguan atau kesamaran.[16]

B.     Kritik dan Saran.
Apabila dalam penyusunan dan penulisan makalah ini terdapat banyak kesalahan baik darlam segi materi bahasan atau pun dari segi tekink penulisan, penulis mohon kritik dan saran yang membangun dari para pembaca. Untuk perbaikan dalam penulisan makalah selanjutnya.


DAFTAR PUSTAKA


Arifin Bey. 1978. Mengenal Tuhan. PT. Bina Ilmu: Surabaya.
Ghazi Abu, Niswah Abu Farid. 2007. Allah Bukan Tuhan. Pustaka Darul Ilmi: Bekasi.
Ilyas Yunahar. 2007. Kuliah Aqidah Islam. LPPI: Yogyakarta.
Muin Abdul Thahir. Darun Najah: Jakarta Selatan.
Syeikh Muhammad Abduh. 1979. Risalah Tauhid. Bulan Bintang: Jakarta.
Syeikh Muhammad bin Sholeh al- Utsaimin. 2003. Al- Qowa’idul Mutsla, memahami nama dan sifat Allah. Media Hidayah: Yogyakarta.
Situs Internet dengan alamat: www.wikipedia.com







[1] Syaikh Muhammad bin Sholeh al- Utsaimin. Al Qowa’idul Mutsla, Memahami Nama dan Sifat Allah. Hlm : 9.
[2] Abu Ghazy, Farid Abu Niswah. Allah Bukan Tuhan. Hlm.133- 134.
[3] Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam. Hlm. 51.
[4] Wikipedia.com

[5] Thahir Abdul Muin. Ikhtisar Ilmu Tauhid. Hlm. 20.
[6] Syeikh Muhammad Abduh. Risalah Tauhid. Hlm.73.
[7] Bey Arifin. Mengenal Tuhan. Hal. 51-52.
[8]Thahrir Abdul Muin. Op. Cit. Hlm. 20
[9] Syeikh Muhammad Abduh. Op. Cit. Hlm. 72.
[10] Bey Arifin. Op. Cit. Hlm. 53- 54.
[11] Thahir Abdul Muin. Op.Cit. Hlm. 20.
[12] Syeikh Muhammad Abduh. Op. Cit. Hlm. 68- 69.
[13] Bey Arifin. Op. Cit. Hlm. 61- 63.
[14] Syeikh Muhammad Abduh. Op. Cit. Hlm. 69- 70.
[15] Yunahar Ilyas. Op. Cit. Hlm. 56- 58.
[16] Thahir Abdul Muin. Op. Cit. Hlm. 20.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar