Kamis, 15 April 2010

Latar Belakang Pengembangan Kurikulum


BAB I
PENDAHULUAN

Banyak definisi kurikulum yang satu dengan yang lain saling berbeda dikarenakan dasar filsafat yang dianut oleh para penulis berbeda-beda. Walaupun demikian ada kesamaan satu fungsi, yaitu bahwa kurikulum adalah alat untuk mencapai tujuan pendidikan. Di Indonesia tujuan kurikulum tertera pada Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Tahun 1989 Bab I Pasal 1 disebutkan bahwa : Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggara kegiatan belajar mengajar.
Kurikulum yang terdiri atas berbagai komponen yang satu dengan yang lain saling terkait adalah satu sistem, ini berarti bahwa setiap komponen yang saling terkait tersebut hanya mempunyai satu tujuan, yaitu tujuan pendidikan yang juga menjadi tujuan kurikulum.
Pada dasarnya kurikulum berisikan tujuan, metode evaluasi bahan ajar dan berbagai pengalaman belajar. Kurikulum yang disusun di pusat berisikan beberapa mata pelajaran pokok dengan harapan agar peserta didik di seluruh Indonesia mempunyai standar kecakapan yang sama. Kurikulum tersebut dinamai Kurikulum Nasional (Kurnas) atau Kurikulum Inti, sedang evaluasinya dilaksanakan dengan Ebtanas. Kurikulum yang lain yang disusun di daerah-daerah disebut Kurikulum Muatan Lokal, evaluasinya dilaksanakan secara Ebta.
BAB II
PEMBAHASAN

Latar Belakang Kurikulum
Tugas utama seorang guru adalah membimbing, mengajar, serta melatih peserta didik secara professional sehingga dapat mengantarkan peserta didiknya kepada pencapaian tujuan pendidikan. Sehingga untuk melaksanakan tugas tersebut guru harus berpedoman pada suatu alat yang disebut kurikulum.[1]

  1. Pengertian Kurikulum
Pada awal mulanya istilah Kurikulum dalam dunia olah raga khususnya atletik pada zaman Yunani kuno. Curriculum berasal dari bahasa Yunani Curier atau kurir (dalam bahasa Indonesia) yang berarti seseorang yang bertugas menyampaikan sesuatu kepada orang lain di lain tempat. Curere berarti berlari. Kamus Webster tahun 1856 mengartikan “a race course, a place for running, a chariot”. Kurikulum diartikan suatu jarak yang ditempuh oleh pelari. Tapi juga suatu chariot kereta pacu pada zaman dulu, suatu alat yang membawa seseorang dari tempat start ke tempat finish.
Kurikulum kemudian dibawa ke dalam dunia pendidikan dan diartikan sebagai sejumlah mata pelajaran atau ilmu pengetahuan yang ditempuh atau dikuasai untuk mencapai suatu tingkat tertentu atau ijazah.
Dalam arti sempit kurikulum diartikan sebagai rencana pelajaran. Hilda Taba dalam bukunya Curiculum development, theory and practice mengartikan kurikulum sebagai a plan for learning yaitu sesuatu yang direncanakan untuk dipelajari oleh anak. Selanjutnya definisi kurikulum dalam arti luas dengan beberapa penekanannya sebagai berikut:
1.    J. Galen Saylor dan William M. Alexander (1956)
Kurikulum adalah semua usaha sekolah untuk mempengaruhi siswa itu belajar, apakah dalam ruangan kelas, di halaman sekolah atau di luar sekolah.
2.    Harold B. Alberty (1965)
Kurikulum adalah semua kegiatan yang disajikan oleh sekolah bagi para siswa.
3.    Nana Sudjana (1988)
Kurikulum adalah niat dan harapan yang dituangkan dalam bentuk rencana atau program pendidikan untuk dilaksanakan oleh guru di sekolah.
4.    Undang-undang No. 2 Tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional
Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
5.    Nana Syaodih Sukmadinata (1997)
Kurikulum menyangkut rencana dan pelaksanaan pendidikan baik dalam lingkup kelas, sekolah, daerah, wilayah, maupun nasional.
Akhirnya kurikulum didefinisikan sebagai Program pendidikan yang bertujuan melaksanakan tujuan pendidikan di sekolah dan berlaku di seluruh wilayah Negara kesatuan Republik Indonesia dengan memperhatikan kondisi dan kebutuhan daerah. [2]
Unsur-unsur dalam definisi kurikulum tersebut adalah:
1.    Seperangkat Rencana
Seperangkat rencana, artinya bahwa di dalamnya berisikan berbagai rencana yang berhubungan dengan proses pembelajaran. Dengan demikian, ini berarti bahwa segala sesuatu yang direncanakan dapat berubah sesuai dengan situasi dan kondisi (fleksibel).
2.    Pengaturan Mengenai Isi dan Bahan Pelajaran
Bahan pelajaran ada yang diatur oleh pusat (kurnas) dan oleh daerah setempat (kurmulok)
3.    Pengaturan Cara yang Digunakan
Delevery system atau cara mengajar yang dipergunakan ada berbagai macam, misalnya; ceramah, diskusi, demonstrasi, inquiri, recitasi, membuat laporan portofolio dan sebagainya.
4.    Sebagai Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar
Penyelenggara kegiatan belajar mengajar terdiri atas tenaga kependidikan, yaitu anggota masyarakat yang mengabdikan diri dalam penyelenggaraan pendidikan, sedang tenaga pendidikan, yaitu anggota masyarakat yang bertugas membimbing atau melatih peserta didik.[3]

  1. Sejarah Perkembangan Kurikulum
Kita telah mengetahui bahwa kurikulum adalah sejumlah mata pelajaran tertentu yang harus dikuasai untuk mencapai suatu tingkat pendidikan. Hal ini ternyata tidak berjalan secara statis, melainkan terus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Karena itulah, kita perlu melihat sejarah kurikulum masa lalu hingga masa sekarang.
Sejarah perkembangan kurikulum dapat kita bahas sebagai berikut:
1.    Kurikulum Zaman Yunani Kuno
Pada zaman kuno, kurikulum masih sangat primitif dan belum ada sekolah formal sehingga kurikulumnya pun tidak tertulis. Pada masa nenek moyang bangsa kita, proses pendidikan berjalan secara informal, yaitu para orang tua memberikan pengalaman pada anak-anaknya, seperti cara-cara memburu binatang, menangkap ikan, bertani dan sebagainya.
Pada zaman kuno, kurikulum saat itu sangat sederhana dan masih berbentuk daftar pelajaran seperti:
a.    Literatur-literatur secara tertulis tidak ada, hanya berupa dongeng dan pesan secara lisan saja.
b.    Ilmu pengetahuan hanya terbatas pada kenyataan-kenyataan alam langsung, tanpa ada ukuran buku.
c.    Matematika (ilmu hitung) hanya mengenal angka dan hanya terbatas pada penjumlahan saja yang diperlukan.
d.    Mengenal dan mengutamakan pendidikan jasmani atau latihan-latihan fisik.
e.    Mengenal dan mengutamakan pendidikan religius/ritual (berupa kepercayaan).
Bangsa Yunani dapat dikatakan sebagai pelopor dalam hal pendidikan, sebab Negara itu tingkat kebudayaan telah tinggi dan telah tersebar ke seluruh dunia, khususnya ke Eropa. Bahkan, sampai zaman modern, benda-benda dan kebudayaan Yunani masih banyak dipelajari, misalnya Filsafat Yunani.
Yunani tempo dulu membedakan jenis kurikulum, yaitu:
§  Rhethorica School, tujuannya adalah sekolah menitikberatkan pada pendidikan keahlian berbicara atau berpidato (orator).
§  Philosophical School, tujuannya adalah sekolah menitikberatkan pada pendidikan intelektual serta bidang filsafat (kecerdasan).
2.    Kurikulum Zaman Romawi Kuno
Bangsa Romawi membentuk/membuat bentuk organisasi isi kurikulum. Tujuh Kesenian Bebas dari Yunani diperluas oleh bangsa Romawi, terutama dalam soal tata bahasanya dan bangsa Roma mencantumkan bahasa asing ke dalam kurikulum
Kurikulum zaman Romawi dibagi menjadi 2 bagian, yaitu:
a.    Zaman Romawi Lama
Kurikulum zaman Romawi lama hanya berisi pelajaran membaca, menulis, berhitung. Pendidikan saat itu sifatnya informal karena hanya dilakukan di rumah-rumah dan pendidikan di sekolah-sekolah hampir tidak ada. Pendidikan tidak menjadi tugas Negara, tetapi diselenggarakan di rumah-rumah.
Tujuan pendidikan zaman Romawi lama, yaitu: membentuk warga Negara yang berani berkorban membela tanah airnya, dan diutamakan pembentukan warga Negara yang cakap sebagai tentara.
b.    Zaman Romawi Baru (Hellenisme)
Tujuan pendidikan zaman Romawi baru yang diutamakan, yaitu pembentukan yang harmonis yang dipentingkan untuk pendidikan rasio dan kemanusiaan (humanitas).
3.    Kurikulum Zaman Abad Tengah dan Pendidikan Modern
      Pada zaman pertengahan, asimilasi kebudayaan berjalan terus. Sejalan dengan itu, pendidikan saat itu hampir sebagian besar berada ditangan kaum baru, yaitu agama Kristen yang tidak membeda-bedakan derajat manusia ataupun warna kulit. Metode mengajarnya mekanis, yaitu murid-murid menyebut apa yang disebutkan oleh guru, semua itu harus dihapal oleh siswa. Suasana sangat keras, kesalahan dihukum dengan pukulan.
      Pada abad ke 13, sekolah biara semakin berkembang karena dirasakan perlunya mempertinggi mutu pelajarannya, maka didirikanlah universitas-universitas.
      Ada tiga dasar kurikulum modern antara lain:
a.    Kurikulum adalah suatu konsep yang luas
b.    Problem-problem kurikulum di lapangan
Masalah-masalah yang banyak dihadapi dapat dikelompokan menjadi beberapa kelompok masalah yang terdiri atas:
·   Masalah pengelompokan anak
·   Masalah perbedaan kecakapan intelektual
·   Masalah kesehatan
·   Masalah kekuatan tenaga
·   Masalah semangat/motivasi
·   Masalah daya tarik
·   Masalah kebutuhan, dll.
c.    Perubahan-perubahan kurikulum.
Perubahan kurikulum dapat terjadi karena dipengaruhi juga oleh beberapa faktor antara lain:
A. Faktor sistem warisan pendidikan yang sudah tidak cocok dengan kondisi lapangan,
B. Faktor ilmu pengetahuan dan teknologi yang telah maju pesat,
C. Faktor ledakan penduduk di mana generasi bertambah, hal ini membutuhkan pendidikan.[4]

C. Tujuan Kurikulum

     Tujuan dari kurikulum adalah sebagai arah, pedoman, atau sebagai rambu-rambu dalam pelaksanaan proses pembelajaran (belajar mengajar).

D. Fungsi Kurikulum

    Fungsi kurikulum dibagi menjadi dua yaitu fungsi umum dan fungsi khusus, yaitu :

·         Fungsi umum kurikulum, Kurikulum berfungsi sebagai penyedia dan pengembang individu peserta didik.
·         Fungsi khusus kurikulum, yaitu :
a.  Fungsi preventif. Dimaksudkan agar guru terhindar dari melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan yang ditetapkan dalam kurikulum.

b.  Fungsi korektif. Sebagai rambu-rambu yang harus dipedomani dalam membetulkan pelaksanaan yang menyimpang dari kurikulum.

c.   Fungsi Konstruktif. Memberikan arah yang benar bagi pelaksanaan dan mengembangkan pelaksanaannya, asalkan arah pengembangannya mengacu pada kurikulum yang berlaku.

E.  Komponen-komponen kurikulum

1.  Komponen tujuan

Yaitu arah atau sasaran yang hendak dituju oleh proses penyelenggaraan pendidikan. Dalam kurikulum pendidikan dasar dan menengah 1975/1976 dikenal kategori :

·         Tujuan pendidikan nasional yang merupakan tujuan jangkan panjang, tujuan ideal pendidikan bangsa Indonesia.

·         Tujuan institusional, merupakan sasaran pendidikan sesuatu lembaga pendidikan.

·         Tujuan kurikuler, adalah tujuan yang ingin dicapai oleh sesuatu program studi.

Tujuan instruksional,
merupakan target yang harus dicapai oleh sesuatu mata pelajaran.

2.  Isi kurikulum

Mencakup pengalaman-pengalaman yang akan diperoleh siswa dalam kegiatan belajar di sekolah. pengalaman-pengalaman ini mencakup tujuan khusus, bahan ajaran, strategi mengajar, media dan sumber belajar.

3.
Metode belajar

F.  Kedudukan kurikulum dalam pendidikan

Pendidikan berintikan interaksi antara pendidik dengan peserta didik dalam upaya membantu peserta didik menguasai tujuan-tujuan pendidikan. Interaksi pendidikan dapat berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, ataupun masyarakat. Misalnya dalam keluarga orang tua menginginkan anak yang soleh, sehat, pandai dan sebagainya tetapi orang tua sering tidak mempunyai rencana yang jelas.

Disinilah pendidikan dalam lingkungan sekolah berperan lebih dibandingkan dengan pendidikan dikeluarga ataupun dimasyarakat. Kelebihan tersebut adalah:

1.  Pendidikan formal di sekolah memiliki lingkup isi pendidikan yang lebih luas, bukan hanya berkenaan dengan pembinaan segi moral tetapi juga ilmu pengetahuan dan ketrampilan.

2.  Pendidikan sekolah memberikan pengetahuan yang lebih tinggi, lebih luas dan mendalam.

3.  Sekolah memiliki rancangan atau kurikulum secara formal dan tertulis, pendidikan di sekolah dilaksanakan secara berencana dan sistematis.

Kurikulum merupakan syarat mutlak bagi pendidikan di sekolah, hal ini berarti bahwa kurikulum merupakan bagian yang tak terpisahkan dari pendidikan atau pengajaran.

G. Pengembangan Kurikulum

·      Prinsip-prinsip Umum, yaitu:

a.      Prinsip relevansi keluar maksudnya tujuan, isi, dan proses belajar yang tercakup dalam kurikulum hendaknya relevan dengan tuntutan, kebutuhan, dan perkembangan masyarakat. Prinsip relevansi didalam yaitu ada kesesuaian atau keterpaduan atau konsistensi antara komponen-komponen kurikulum, antara tujuan, isi, proses penyampaian, dan penilaian.

b.      Fleksibilitas, kurikulum mempunyai sifat lentur atau fleksibel. Suatu kurikulum yang baik adalah kurikulum yang berisi hal yang solid, tetapi dalam pelaksanaannya memungkinkan terjadinya penyesuaian berdasarkan kondisi daerah, waktu maupun kemampuan, dan latar belakang anak.

c.      Kontinuitas, yaitu kesinambungan. Perkembangan dan proses belajar anak berlangsung secara berkesinambungan. Perlu adanya komunikasi dan kerja sama antara pengembang kurikulum sekolah dasar dengan SMP, SMA, dan Perguruan Tinggi.

d.      Praktis dan efisiensi, mudah dilaksanakan, mengguanakan alat-alat sederhana dan dengan biaya yang murah.

e.      Efektivitas, walaupun kurikulum tersebut murah tetapi keberhasilannya tetap harus diperhatikan, baik secara kuantitas maupun kualitas.

·       Prinsip-prinsip khusus, yaitu:

a.      Berkenaan dengan tujuan pendidikan,

b.      Berkenaan dengan pemilihan isi pendidikan,

c.      Berkenaan dengan pemilihan proses belajar mengajar,

d.      Berkenaan dengan pemilihan media dan alat pengajaran,

e.      Berkenaan dengan pemilihan kegiatan penilaian.[5]

  1. Perbedaan Kurikulum Lama dan Baru
Perbedaan antara kurikulum lama dan kurikulum baru, diantaranya adalah sebagai berikut:
a.    Kurikulum lama berorientasi kepada masa lampau, sedangkan kurikulum baru berorientasi kepada masa sekarang.
b.    Kurikulum lama tidak berdasarkan suatu filsafat pendidikan yang jelas, sedangkan kurikulum baru berdasarkan suatu filsafat pendidikan yang jelas yang dapat diajarkan ke dalam serangkaian tindakan yang nyata.
c.    Kurikulum lama berdasarkan tujuan pendidikan yang mengutamakan perkembangan pengetahuan dan keterampilan, sedangkan kurikulum baru bertujuan untuk mengembangkan keseluruhan pribadi siswa agar mampu hidup di dalam masyarakat.
d.    Kurikulum lama berpusat pada mata pelajaran, sedangkan kurikulum baru disusun berdasarkan masalah atau topik, di mana siswa belajar dengan mengalami sendiri.
e.    Kurikulum lama semata-mata didasarkan atas buku pelajaran sebagai sumber bahan, sedangkan kurikulum baru bertitik tolak dari masalah dalam kehidupan yang disesuaikan dengan tingkat perkembangan, minat dan kebutuhan individu.
f.     Kurikulum lama dikembangkan oleh guru secara perseorangan, sedangkan kurikulum baru dikembangkan oleh tim atau suatu departemen tertentu.[6]

BAB III
PENUTUP

  1. Kesimpulan
      Dari pembahasan di atas dapat diambil suatu kesimpulan sebagai berikut:
1.    Kurikulum adalah seperangkat rencana dan pengaturan mengenai isi dan bahan pelajaran serta cara yang digunakan sebagai pedoman penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar.
2.    Kurikulum sudah ada sejak zaman Yunani dan Yunani juga merupakan pelopor dalam hal pendidikan.
3.    Terdapat 3 dasar kurikulum modern, yaitu Kurikulum adalah suatu konsep yang luas, problem-problem kurikulum di lapangan dan perubahan-perubahan kurikulum.
4.    Terdapat perbedaan yang signifikan antara kurikulum lama dengan kurikulum baru, misalnya kurikulum lama berpusat pada mata pelajaran, sedangkan kurikulum baru disusun berdasarkan masalah atau topik, di mana siswa belajar dengan mengalami sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, dkk.. 1998. Pengembangan Kurikulum. Bandung: CV. Pustaka Setia.

Dakir. 2004. Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Hamalik, Oemar.  1993. Pengembangan Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan. Bandung: PT. Trigenda Karya.

Sudirwo, Daeng. 2002. Kurikulum Pembelajaran dalam Rangka Angka Otonomi Daerah. Bandung: CV. ANDIRA.

Situs internet, dengan alamat : www.google.com


[2] Drs. H. Daeng Sudirwo, M. Pd., Kurikulum Pembelajaran dalam Rangka Angka Otonomi Daerah, Bandung, CV. ANDIRA, 2002, hlm. 1-3.
[3] Prof. Drs. H. Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikulum, Jakarta, PT. Rineka Cipta, 2004, hlm. 3-4.
[4] Drs. H. Ahmad, dkk., Pengembangan Kurikulum, Bandung, CV. Pustaka Setia, 1998, hlm.79-92
[5] www.google.com
[6] Oemar Hamalik, Pengembangan Kurikulum Lembaga Pendidikan dan Pelatihan, Bandung, PT. Trigenda Karya, 1993, hlm. 19.

0 komentar:

:a: :b: :c: :d: :e: :f: :g: :h: :i: :j: :k: :l: :m: :n:

Poskan Komentar